Sejarah Kartini dan Islam, tak banyak sumber yang bercerita tentang ini. Feminisme adalah hal yang paling banyak dikaitkan dengan Kartini. Ternyata dalam surat-surat yang ditulisnya, ia pun menolak westrenisasi dan kristenisasi. Raden Adjeng Kartini, lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879 dan wafat pada usia yang tergolong masih muda yaitu 25 tahun. Beliau wafat pada tanggal 17 September 1904 di Rembang.

Kartini Pahlawan Nasional

Kartini menjadi pahlawan nasional wanita bagi bangsa Indonesia karena perjuangannya menyuarakan hak-hak wanita. Beliau menjadi tokoh yang menginspirasi kaumnya karena kegigihannya dalam menuntut ilmu, sekaligus memperjuangkan hak sesamanya untuk mendapatkan pendidikan. Tidak hanya sampai di situ, sebenarnya Kartini juga sadar terhadap pendidikan untuk semua kalangan. Baik laki-laki maupun perempuan. Entah ia Jawa, Madura atau suku manapun juga. Kala itu, Kartini sempat memperjuangkan beasiswa untuk salah satu putra Bangsa dari Sumatera. Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara (2005: 282): “Kartini pejuang yang tidak etnosentris dan bukan pula pembela bangsawan atau priyayi.” Menariknya, perjuangan Kartini tidak menggunakan senjata seperti bambu runcing atau sejenisnya. Ia menyampaikan ide dan keresahan hatinya dengan cara yang lembut khas seorang wanita: menulis surat.

Jeritan pemberontakannya dituliskan antara lain kepada Abendanon Direktur Departemen Pendidikan, Kerajinan dan Agama, Ny. Abendanon, Nn. Stella Zeehandelaar, Ny. Marie Ovink Soer, istri Residen Jepara Ir. HH van Kol, Dr. Adriani.

Baca juga contoh kata pengantar buat kamu-kamu yang ingin tahu cara menyusun kata pengantar yang baik dan benar.

Kartini dan Islam

Kartini dan Islam: inilah sejarah yang jarang kita ketahui. Padahal, Kartini dan Islam mengambil peran penting dalam perubahan pandangan hidup Kartini.

Ada banyak kejadian yang berlalu begitu saja. Tapi ada satu peristiwa yang bisa jadi sangat membekas dan mencerahkan  sepanjang hidup. Hal istimewa ini juga yang dialami Kartini: persentuhan Kartini dan Islam. Kartini memang beragama Islam. Namun, masa penjajahan kala itu, tidak seperti kita yang sekarang ini yang mudah dan bebas akses informasi, belajar ini-itu dan mendalami suatu ilmu.

Gerak-gerik rakyat senantiasa diawasi oleh penjajah. Termasuk gerakan Ulama dalam berdakwah atau menyampaikan ajaran Islam. Belum lagi, berlaku adat istiadat yang menempatan perempuan sebagai sosok yang cukup di “belakang”. Kondisi seperti itu menjadi pelengkap terbelakangnya perempuan di zaman Kartini. Tapi, suatu hari Kartini mendengarkan ceramah Guru Sholeh Darat. Inilah penggalan hidup Kartini yang akan menjadikan Kartini dan Islam tidak boleh tidak harus dikaitkan.

Guru Sholeh Darat memberi pengajian di Pendopo Bupati Demak. Saat itu Kartini yang merupakan keponakan dari Bupati Demak turut hadir. Guru Sholeh Darat mengupas makna surat Al Fatihah. Kartini tertarik dengan cara Sholeh Darat menguraikan pelajaran agama. Kartini lalu meminta Sholeh Darat untuk menterjemahkan dan menafsirkan Al Qur’an ke bahasa yang mudah dimengerti oleh Kartini (M. Anwar Djaelni, 2015: 50).

Begitu tahu Al Qur’an memiliki makna-makna yang selama ini belum ia pahami, Kartini mulai tergugah. Kepada sahabat korespondensinya, E. C Abendannon, ia menyatakan, “Alangkahnya bebalnya, bodohnya kita, tiada melihat, tiada tahu, sepanjang hidup ada gunung kaya di samping kami (15 Agustus 1902).” Inilah momen di mana Kartini terbuka hati oleh Al Qur’an, yang sekaligus mewujudkan dia yang telah memeluk Islam menjadi ingin lebih memperdalam ajaran agamanya itu.

Sedikit demi sedikit, nampak perubahan pada Kartini. Kartini menjadi lebih siap dalam menegakkan kebenaran. 

Hal ini nampak pada surat Kartini pada Abendanon pada 17 Agustus 1902, “… kami berpegang teguh-teguh pada tanganNya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi … Manakah akan terang, bila tiada didahului gelap gulita. Hari fajar lahir setelah hari malam (baca “Terang Kartini Terbit dari Mana?”, Buletin Hanif, 17 April 2009).

Keislaman Kartini bukan kedjawen, meski hidup di lingkungan priyayi Jawa. Karena Kartini belajar dari sumber Al Qur’an yang murni. Ditambah karakter dasar Kartini yang memang pembelajar, bukan yang suka ikut-ikutan.

Nampak pula sikap Kartini terhadap politik kristenisasi dan westernisasi. Kepada E. C Abendanon, R. A Kartini mengingatkan: “Zending Protestan jangan bekerja dengan mengibarkan panji-panji agama Jangan mengajak orang Islam memeluk agama Nasrani. Hal ini akan membuat Zending memandang warga Islam sebagai musuhnya. Dampaknya, semua agama akan menjauhi Zending. ” (Ahmad Mansyur Suryanegara, 2005: 281) Dari surat-surat  Kartini terbaca tentang islam di mata rakyat terjajah saat itu. Kartini juga menolak ajakan Ny. Van Kol masuk Kristen. Dijawabnya, “Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kita sekarang ini.” Selanjutnya, R. A Kartini menyampaikan harapannya terhadap Ny. Van Kol, agar Barat bertoleransi terhadap Islam: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama kami Islam patut disukai,” 21 Juli 1902.

Pernikahan Kartini

Pada tanggal 12 November 1903, Kartini oleh orangtuanya, dinikahkan dengan bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat (yang saat itu sudah beristri 3). Saat pernikahannya itu, Guru Sholeh Darat memberikan Qur’an terjemahan dan tafsir dengan bahasa Jawa itu diberi judul Faid ar Rahman. Diberikannya kitab Faid ar Rahman 13 juz, yaitu terjemah dan tafsir Al Qur’an dari juz 1 sampai 13 atau dari surat al fatihah sampai surat Ibrahim sebagai hadiah.

Sejak mendapat permintaan untuk menulis terjemah dan tafsir Al Qur’an dari Kartini, guru Sholeh Darat pun menjadi aktif menulis kitab (buku) – yang hampir semua berbahasa Jawa – dengan menggunakan huruf pegon.

inilah fragmen hidup Kartini yang merubah pandangan hidup. Setelah menikah, Kartini memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan sekolah lagi yang sebenarnya sudah lama ia idam-idamkan.

Namun, suami mengerti keinginan Kartini. Karena itu, Kartini diberi kebebasan dan didukung bangunan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904.

Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini dunia. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Berkat kegigihannya Kartini, didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912, dan kemudian di Yogyakarta, Surabaya, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah itu adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. ( Https://id.m.wikipedia.org/ wiki / kartini )

Itulah sosok Kartini dengan karakternya yang teguh. Berkemauan kuat, tidak mudah putus asa dan yakin terhadap prinsip yang dinilainya benar. Meskipun harus menentang adat yang dirasa mengungkung wanita. Kartini dan perkenalannya terhadap tafsir dan terjemah Al Qur’an memberi nilai tersendiri dalam cara Kartini melihat suatu masalah. Ajaran Islam yang dikemas berbeda, menambah nilai kebijaksanaan Kartini dalam menghadapi segala benturan pemikiran dan realitas masyarakatnya pada saat itu.

Semoga dengan membaca sepintas sejarah Kartini dan Islam ini, menumbuhkan keinginan kita untuk memahami Al Qur’an, lebih dari sekedar membaca. Supaya gunung emas yang ada di samping kita, dapat kita rasakan keberadaan dan kebermanfaatannya. Semoga lahir Kartini-Kartini untuk ibu pertiwi, Indonesia.

Untuk mengakhiri artikel ini, kami ingin mengutip kata-kata Kartini yang penuh semangat serta penuh keyakinan,“…, yang sangat menyedihkan hati kami dalam hidup ini, ialah kelobaan manusia yang hanya memikirkan dirinya saja, yang kerap kali tiada tahu batasnya. Sungguhpun kelobaan itu rupanya sudah memerintah seluruh dunia, cinta itupun masih ada juga.” Penggalan surat Kartini kepada Dr. Andriani, 24 September 1902.

sumber:

  1. Habis Gelap Terbitlah Terang karya Armin Pane
  2. Api Sejarah 1 karya Ahmad Mansyur Suryanegara
  3. 50 Pendakwah Pengubah Sejarah karya M. Anwar Djaelani
  4. wikipedia/kartini

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *