Khutbah Idul Fitri Ustadz Abdul Somad

Khutbah Idul Fitri Ustadz Abdul Somad

Khutbah Idul Fitri Ustadz Abdul Somad. Nasehat adalah bentuk penjagaan diri manusia dari azab Allah SWT.  Nasehat itu secara khusus berupa nasehat yang disampaikan oleh bapak kepada seluruh anggota keluarganya, yaitu istri dan  anak. Begitulah nasehat ini disampaikan UAS di tengah khutbahnya.

Khutbah Idul Fitri Ustadz Abdul Somad

Dikutip dari wikipedia Ustadz Abdul Somad (Semoga Allah merahmati beliau), seorang ulama kelahiran Silo Lama, Asahan, Sumatera Utara, yang setiap tutur katanya, kajiannya, khutbahnya sarat dengan hikmah dan nasehat. Penyampaiannya tegas, lugas, dan begitu mudah dipahami oleh siapapun yang mendengarnya, masyaAllah. Sesekali ditengah nasehat beliau diselingi dengan gurauan yang tidak hanya mengundang tawa namun juga sarat dengan nasehat.

Rasanya tak pernah bosan mendengar nasehat-nasehat beliau melalui kanal youtube. Bagi penulis, rasanya perlu juga mendokumentasikan apa yang sudah beliau sampaikan kedalam bentuk tulisan, semoga tulisan ini bisa digunakan oleh siapapun yang hendak menyampaikan kebaikan.

Berikut adalah khutbah Ustad Abdul Somad saat menjadi imam dan khotib sholat idul fitri.

Assalamualaikum wr, wb.

Allahuakbar 9x.

doa pembuka khutbah; doa pembuka khutbah idul fitri
Khutbah pertama:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Tenggelamnya matahari kemarin sore menandakan berakhirnya bulan ramadhan, berpisahlah kita dengan bulan yg diagungkan Allah SWT, disisi lain kita merasa senang, kesenangan itu kita ungkapkan dalam ucapan takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, tapi di tengah kesenangan itu, terbayang wajah orang-orang yang dulu pernah berkesan dalam hidup kita, kita hadir di atas bumi Allah ini bukan kebetulan melainkan didahului orang-orang sebelum kita.

Kita dilahirkan dari rahim seorang ibu, 9 bulan 10 hari kita berada dalam kandungan, andai masih ada mereka, dapat kita cium tangannya, kita peluk tubuhnya yang rapuh, tapi tak semua seberuntung itu, banyak dari mereka yang sudah mendahului kita, terbayang wajah mereka di pelupuk mata kita, tak ada kata yg lain yang dapat kita ucapkan selain:

Allahummagfirlana zunubana, waliwalidayyna warkhamhumma kamarobbayani shagira

Dia, laki-laki yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, mencari nafkah yang halal demi sesuap nasi yang halal untuk istri dan anaknya, dia kerahkan semua tenaga dan pikirannya untuk kelurganya. Andai ia masih hidup, dapat kita peluk tubuhnya yang rapuh, namun sebagiannya sudah meninggalkan kita, Rabbana – ampunkanlah – Waliwalidaina, Waliummahatina, ayahanda kami, ibunda kami, rabbanagfirlana dzunuubana waliwalidayyna warhamhuma kama rabbayani soghiro, sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kami kecil, maka, balaslah itu ya Allah.

Tidak ada yang bisa membalas semua itu selain Allah SWT, larut dalam kesedihan, tidak ada yang bisa menghapus kesedihan itu selain lafadz Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, besar kesedihan kami ya Allah, tapi lebih besar kasih sayangmu ya Allah, sempit terasa dada kami ya Allah tapi, hanya engkau saja yang dapat melapangkannya ya Allah.

Dengan lafadz Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, dalam lautan takbir, maka semua menjadi laut, semua menjadi bening, semua menjadi bersih, semuanya diserahkan kepadamu ya Allah.

Berapa kali sholat, doa, tidak terwujud karena kita, berapa kali ibadah mereka tidak jadi karena tangis kita sewaktu kecil, hari ini, apa yang bisa kita balaskan kepada mereka, orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita, tak ada ungkapan yang bisa kita sampaikan selain doa, maka panjatkanlah doa, ungkapkan permintaan ampunan, maaf kepada Allah SWT. Di hari yang baik, bulan yang mulia yang diagungkan Allah SWT, yang dimuliakan oleh Rasul SAW, maka pada hari ini kami menyampaikan setidaknya ada 3 wasiat penting yang dapat kita ambil dari khutbah ini.

Pelajaran pertama dari hikmah idul fitri:

Apapun yang terjadi, hidup manusia tetap dalam uji dan cobaan,

Walanabluwannakum bisyai-in minal khaufi, kami uji kamu dengan perasaaan takut, takut sakit, takut susah, takut melarat, tapi ketakutan-ketakutan itu sudah lama kita hilangkan karena takut pada azab Allah SWT.

Oleh karena itu, ketika Aisyah ra bertanya kepada Rasul SAW, “wahai rasul, andai aku berjumpa dengan lailatul qodar, malam yang lebih baik dari malam seribu bulan, apakah yang aku mohonkan kepada Allah?”, maka Rasul SAW mengajarkan,

Allhumma ya allahu, innaka afuwwun, engkau maha pemaaf, tuhibbul afwa’, kau cinta kepada maaf, fa’fuanni, maka maafkanlah kesalahanku.

Besar rasa takut kita kepada kemiskinan, tapi lebih besar lagi rasa takut kita kepada azab Allah SWT. Orang-orang yang takut miskin, takut melarat, maka karena takut itu ia halalkan segala cara, sogok, judi, khamar, zina, maka ia lebih takut pada yang haram, sehingga dia lupa ada takut yang lebih besar lagi, yaitu takut kepada Allah SWT.

Salah satu rukun khutbah adalah menyampaikan wasiat, uusikum wanafsi bitaqwallah – takutlah kepada Allah. Apa sebenarnya inti dari ibadah yang kita dirikan selama 30 hari 30 malam ini, tidak lain dan tidak bukan, sebagaimana yang dinyatakan Allah:

Yaa ayyuhalladzi na aamanu – hai orang-orang yang beriman – qutiba ‘alikumussiyaam – diwajibkan kamu berpuasa – kama kutiba ‘alalladzi namin qoblikum – sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu.

Apa tujuannya? Apakah Allah ingin menyiksa hambanya? Tidak, apakah Allah ingin mempersulit? Tidak,

Yuridullahu bikumul yusra, wala yuridu bi kumul ‘usra, Allah tak pernah mempersulit kamu, Allah ingin kamu mendapatkan kebaikan yang diinginkan Allah, yaitu la’alakum tattakuun, supaya kamu takut kepada Allah,

Takut air yang halal menetes di tenggorokan, takut makan, takut minum, menjaga mata, takut melihat yang haram, menjaga telinga, takut mendengar maksiat, menjaga langkah kaki ayunan tangan, bahkan, bisikan hati bahkan lintasan pikiran, dijaga itu semua, selama 30 hari.

Semua yang halal kita tahan, makanan halal kita tahan, minuman yang halal kita tahan, selama 13 jam lebih mampu menahannya, maka mengapa tidak untuk yang haram. Maka puncaknya pada hari yang mulia ini, kitapun ucapkan Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, aku takut kepada engkau ya Allah, besar ketakutanku, besar musibahku yang kuterima tapi tidak membuatku menghalalkan yang haram.

Allahummagdina bihalalin, ya Allah cukupkanlah kami dengan yang halal sehingga kami tidak perlu terjerumus kepada yang haram.

Di saat sholat, di saat tahajjud, kita berdoa kepada Allah, Allahumma ajjirna minannar 3x, Waqina adzabannar 3x,

Maka itu bukan hanya sekedar diujung lidah, dia bukan sekedar kata-kata di khutbah, tapi dia masuk ke dalam otak kita, masuk ke dalam hati kita, ke dalam tulang sum sum kita. Besok, lusa kita akan kembali ke aktivitas kita yang lama, kita akan kembali bekerja, apakah ramadhan tinggal ramadhan, apakah syawal menjadi tempat kita kembali kepada perbuatan maksiat kita,

Laisal ‘id liman labisal jadid walakinnal ‘id liman tho’ athuhu tazid – Hari raya bukannlah hari bagi orang yang memakai baju baru, hari raya hanya layak yang bagi orang yang bertambah taatnya, bertambah takutnya, bertambah hati-hatinya menjalani hidup yang diamanahkan oleh Allah SWT.

Maka, tanamkan rasa takut hanya kepada Allah dalam takbir Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar. Kita memohon ampun kepada Allah, kita takut kepada Allah, takut berbuat yang haram, takut makan yang haram karena makanan haram akan menjadi darah dan daging, darinya tidak diterima doanya, sulit hidupnya, apalagi itu diberikan kepada anak dan istrinya, pada keluarganya. Semoga kita menjadi hamba yang takut kepada Allah SWT, mulai detik ini, mulai pagi ini, dan seterusnya bertambah takut kepada Allah SWT sampai ajal menjemput.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Pelajaran kedua dari hikmah idul fitri:

Bahwa telah sebulan lamanya, kita memberikan kesanggupan kita dalam bentuk tenaga, mata kita tahan untuk bangun lebih awal, kita membaca al-quran, kita sholat taraweh, kita tadarus.

Apakah cukup sampai disitu?

Tidak, kita berikan sebagian harta kita, membayar zakat fitrah. Zakat fitrah adalah ungkapan bahwa kita tidak kikir, kita tidak bakhil, kita tidak pelit.

Wamayyunqosuhanafsih, faula ikahumul muflihun – Siapa yang terpelihara dari sifat pelit, kikir maka dia adalah orang yang beruntung di hadapan Allah SWT.

Oleh sebab itu tidak hanya sekedar memberikan 2,5 kg beras, atau berapapun yang kita bayar tapi lanjutkan perbuatan baik ini dengan memperbanyak sodaqoh, yang wajib dalam bentuk zakat, yang sunnah dalam bentuk infaq, wakaf, sodaqoh, hibah. Ini harta titipan Allah, saat kita masuk masjid kita minta rahmat,

Allhummaftahli abawaba rahmatik – ya Allah bukakan pintu rahmat-Mu untuk kami. Tapi ketika kita keluar masjid, yang kita minta kepada Allah: Allaahummaftahli abawaba fadlik, ya Allah bukakanlah pintu rezeki.

Fa idza qudiyatus sholaatu – Jika sholat sudah ditunaikan, fan tasyiru fil ardhi, bertebarlah di atas muka bumi Allah, carilah karunia Allah.

Oleh sebab itu mari tingkatkan ekonomi ummat, yang pedagang dengan barang dagangnya, yang petani dengan pertaniannya, yang jasa pemikiran dengan jasa pikirannya, kontribusi akalnya.  Semua berperan, semua itu adalah cara untuk mencari rezeki yang halal, tapi jika rezeki sudah didapat, ingat orang islam mencari rezeki bukan untuk menumpuk harta tapi pakailah di jalan Allah.

Kamatsali habbah, anbatats sab’asanaa bilafii kulli sunbulatimmiatu habbah – Seperti kau tanam sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Lalu kemudian ia menjadi 7, menjadi 100, menjadi 700, apakah cuma itu saja?

Wa Allahu Yuda’ifu Liman Yasha’u – Allah lipatkan lebih banyak dari itu – Wa Allahu Wasi’un ‘Alim – Karunia Allah lebih luas, lebih banyak dari pada yang kita pikirkan.

Sesungguhnya harta yang sudah kita sedekahkan, yang sudah kita infaqkan, itu tidak seberapa dibanding dengan nikmat Allah yang kita terima. Kita berkaca, bagaimana kelopak mata kita, bagaimana telinga kita, bagaimana tenaga kita, bagaimana ingatan kita, itu tidak tertebus dengan materi. Jangan pernah kita menyangka kita telah menebus syurga dengan harta yang kita punya, kita hanya baru sekedar mensyukuri nikmat Allah dalam bentuk zakat, infaq, sodaqoh.

Andai ada orang yang sudah terkena nisab lalu tidak ingin mengeluarkan zakat, maka:

Walladzi nayaknizu naddzahaba wal fiddoh, wala yunfiku nahaa fii sabilillah, fabasyirhum bi ‘adzaa bin alim – Orang-orang yang menumpuk emas, menumpuk perak, menumpuk harta, dia tidak keluarkan zakatnya maka Allah mengeluarkan ancaman, sampaikan kepada mereka, mereka mendapatkan azab yang sangat amat menyakitkan, hartanya itu nanti akan dipanaskan lalu kemudian ditimpakan ke kepala mereka, ke pusar mereka, ke usus mereka, ke pundak mereka, lalu Allah katakan, inilah harta yang dulu kau tumpuk rasakanlah akibat dari menumpuk harta.

Setelah kita membayarkan zakat, maka jangan lupa kita juga berinfaq dan bersedekah, setiap hari malaikat mendoakan orang yang bersedekah, berinfaq, – Allahumma a’timunfiqo kholafah – “Ya Allah beri ganti kepada mereka yang bersedakah” tapi jangan lupa Allah juga menginginkan malaikat kepada mereka yang tak ada juga tak mampu namun ada yang mampu tapi tidak mau bersedekah, maka apa kata malaikat, Allahumma a’ti mumsika talafa – “berikanlah mereka kebinasaan”.

Binasa bukan berarti hancur rumahnya, rumahnya tetap besar, kendaraannya tetap mewah, umurnya tetap panjang tapi tidak ada berkah di dalamnya, harta tidak diridhoi menyebabkan dia jauh dari rahmat Allah SWT, oleh sebab itu ketika masalah rezeki kita berdoa,

Wabarokatan fi rizki, berilah barokah dalam rizki, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.

Maka saat mendapatkan rezeki yang halal, pakailah untuk jalan Allah karena itulah yang akan menolong kita di hadapan Allah SWT.  Idza matal insaan – kalau manusia mati – in qotho’a – putus, tapi ada yang tetap mengalir, yang tetap mengalir itu adalah shodaqotun jariah, sedekah jariah.

Berharap pada manusia, seringnya akan menderita, kecewa, pada suami, pada istri, pada anak, kalau mereka sholeh, kalau mereka sholehah, maka mereka akan mendoakan kita, tapi kalau tidak, mereka akan pakai harta kita di jalan yang tidak diridhoi Allah, berharap kepada harta akan binasa, berharap pada kuasa akan sirna, berharap kepada kawan berubah menjadi lawan, maka berharaplah pada sodaqoh,

Kullum riin tahta zinni sodaqotihi – semua orang akan bernaung di bawah sedekahnya, dengan sedekah itulah dia akan mendapatkan naungan di padang mahsyar yang saat itu tidak ada naungan kecuali naungan Allah SWT.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Allah maha besar, kita maha kecil, kita kerdil, kita tidak ada apa-apa nya, kita hanyalah butiran debu.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Pelajaran ketiga dari hikmah idul fitri:
Adalah bahwa kita sudah meminta maaf kepada Allah, innaka afuwwun, engkau maha pemaaf, tuhibbul afwa’, kau cinta kepada maaf, fa’fuanni, maka maafkanlah kesalahanku. Kita sudah mintakan ampun untuk kita, untuk orang tua kita, tapi ada dosa yang tak dapat dimaafkan kepada Allah. Kita menangis, memohon dan minta kepada Allah, “maafkan kesalahanku kepada si Fulan ya Allah” tapi Allah tidak dapat maafkan, karena ini hubungan kita kepada sesama manusia, oleh sebab itu dikatakan manusia ini:

Tulibat ‘alaihum dzillah, mereka akan direndahkan, mereka akan dihinakan, mereka akan dibuat sama seperti tanah yang tak bermakna, sampai mereka menjadi

Illa kecuali bihablum minallah, hablum minannas, oleh sebab itu dianjurkan pulang dari sholat idul fitri, datang dari arah kanan, pulang dari arah kiri, datang dari arah kiri, pulang dari arah kanan, kenapa? Makin banyak orang kita jumpai makin banyak orang kita bersalaman, memohon maaf.

Maa min muslimaini – dua orang muslim – yaltaqiyaani – berjumpa – fayata shoofahaan – berjabat tangan – ilaa gufiro lahuma – maka Allah ampun dosa mereka – ayyaf tariqo, sebelum mereka berpisah.

Inilah kesempatan baik dan mulia, sifat orang yang bertaqwa, wal ‘afina ‘aninnas, mereka orang-orang yang bisa memaafkan orang lain. Banyak yang mampu menahan makan, banyak yang mampu menahan minum tapi tak banyak yang mampu menahan emosi, menahan amarah, maka hari ini setelah 30 hari Allah uji,

“Hai hambaku ku uji dengan makanan, lulus, ku uji kau dengan minum, lulus, ku uji kau dengan nafsu syahwat, lulus, hari ini ku uji kau dengan yang tampak ringan, sanggupkah kau memaafkan saudaramu?” Hari ini kita kembali kepada fitrah, kembali pada fitratul islam, kesucian islam.

Mari kita raih tangan orang tua kita, saudara kita, kawan kita, sahabat kita yang pernah berselisih paham dengan kita, kata-kata kita kasar, ucapan kita menyinggung perasaannya, mungkin karena dia baik, karena dia tulus, tapi, dalam hatinya tetap tergores, goresan itu kita hapus hari ini dengan ucapan permohonan maaf.

khutbah idul fitri ustadz abdul somad; doa penutup khutbah pertama

Khutbah ke dua

Allahuakbar 7x

khutbah idul fitri ustadz abdul somad; doa pembuka khutbah; doa pembuka khutbah idul fitri

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Yang membuat kita hadir di rumah Allah ini adalah syariat Muhammad SAW, semua berangkat ke tempat ibadah, ke masjid bagi yang sholat di masjid, ke lapangan bagi yang ibadah di lapangan, sedangkan Ummu Atiyyah mengatakan “Kami diperintahkan mengeluarkan perempuan diantaranya perempuan yang sedang maaf sedang berhalangan,”  tetap dibawa ke tanah lapangan, tidak dibawa ke dalam masjid, tidak untuk sholat, tapi mereka mendengarkan khutbah, sholat ini bukan sekedar sholat dua rakaat bukan takbirnya saja, tapi yang tak kala penting dari itu adalah wasiat dalam khutbah, maka kami fokus kepada tiga perkara saja, mari kita tingkatkan rasa takut kepada Allah, mari kita tingkatkan infaq, berwakaf, berzakat, bersodaqoh, dan mari kita sambung silaturrahim.

Tiga perkara ini kita tanaman ke dalam keluarga, mari kita bawa syariat Allah ini dalam keluarga, tidak cukup hanya sekedar khutbah setelah, itu selesai, setelah itu bubar, nanti kita akan ditanya oleh Allah SWT. Ini tugas bukan saja tugas ulama, ustad, kiyai saja, ini tugas kita bersama, tugas kepala keluarga, jaga istri, jaga anak, maka momen idul fitri ini kita sampaikan ajaran islam ini kepada mereka sehingga mereka menjadi penerus agama islam di masa yang akan datang, karena islam akan tetap tinggi, tak ada yang lebih tinggi dari islam, tapi tidak ada jaminan bahwa anak cucu kita akan islam.

Walaa tamuutunnailla wa antum muslimun, janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.

Wal asri – Demi masa – innal insa nalafihusri – Semua manusia rugi, yang kaya rugi, miskin rugi dua kali, yang hebat rugi, yang pejabat rugi, tapi ada yang tidak rugi, Illaladzi na aamanu – yang tetap istiqomah dengan imannya, wa amilu sholihaati – yang tetap beramal sholeh, watawaa shoubil haq, saling menasehati dalam kebenaran, watawaa shoubissabri – saling menasehati dalam kesabaran. Nasehat-nasihat inilah yang akan menjaga bumi ini tetap terjaga dari azab Allah.

khutbah idul fitri ustadz abdul somad; doa penutup khutbah kedua

Wassalamu’alaikum wr wb.

 Penutup

Semoga dengan tulisan ini bisa bermanfaat bagia siapapun, dan bisa disampaikan kepada siapapun.

Leave a Comment